SUKOHARJO – Produk pertanian terbesar di Kabupaten Sukoharjo adalah padi sehingga selama ini Sukoharjo menjadi lumbung pangan di Provinsi Jawa Tengah. Namun, bukan berarti tidak ada produk pertanian lainnya. Seperti yang dihasilkan oleh Kelompok Tani (Klomtan) Tani Waris di Desa Pondok, Kecamatan Grogol yang melakukan panen raya jagung bersama Bupati Sukoharjo, Etik Suryani, Jumat (19/11/2021).

Sektor pertanian merupakan salah satu prioritas pembangunan di Kabupaten Sukoharjo. Hal itu dalam rangka mewujudkan pertanian maju, mandiri, dan modern. Berbagai kebijakan dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta peningkatan kesejahteraan petani di Sukoharjo,” terang Bupati.

Bupati melanjutkan, di tengah keterbatasan karena pandemi corona, sektor pertanian harus didorong agar dapat terus menciptakan lapangan kerja di pedesaan, memberikan perlindungan sosial, meningkatkan pendapatan keluarga petani, serta memastikan ketahanan pangan di Kabupaten Sukoharjo,” papar Etik.

Menurut Bupati, ketahanan pangan harus dipertahankan dan terus ditingkatkan dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat, terlebih lagi di masa pandemi ini. “Jangan sampai Kabupaten Sukoharjo mengalami kekurangan pangan atau krisis pangan. Selain padi, jagung juga menjadi salah satu primadona dalam agribisnis karena jagung merupakan tanaman yang mudah tumbuh dan tidak memerlukan perawatan khusus,” kata Bupati.

Bupati menambahkan, kegiatan panen jagung di Desa Pondok tersebut diharapkan mendorong dan memotivasi petani di Kabupaten Sukoharjo untuk melaksanakan diversifikasi tanaman dalam rangka peningkatan pendapatan petani, meningkatkan jumlah produksi pertanian, dan mendukung ketersediaan bahan pangan pokok selain komoditas beras.

Ketua Klomtan Tani Waris, Mujiyanto, melaporkan jika luas lahan yang digunakan untuk menanam jagung seluas 20 hektar. “Selain itu, seluas 6 hektar digunakan untuk menanam tembakau dan 2 hektar lainnya menanam palawija jenis lain,” katanya.

Khusus untuk 20 hektar tanaman jagung, ujar Mujiyanti, selama ini bekerjasama dengan PT Bisi. Untuk setiap hektar tanaman jagung menghasilkan 17,782 ton atau 10,139 ton jagung pipil kering.

Sedangkan Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Sukoharjo, Bagas Windaryatno, menyampaikan bahwa potensi pertanian di Kabupaten Sukoharjo selain padi sangat luar biasa. Namun, masih banyak hal yang harus dilakukan untuk percepatan dengan pendapatan yang berbeda.

“Untuk lahan 20 hektar yang digunakan untuk menanam jagung di Desa Pondok ini seluas 20 hektar bekerjasama dengan PT Bisi,” ujar Bagas.

Bagas juga mengatakan, pembangunan pertanian di Sukoharjo tidak dilakukan oleh pemerintah semata, tapi harus bersinergi dengan swasta. Selain itu, juga harus diperhatikan aspek penjualan produk. “Jangan sampai petani hanya dikejar untuk produksinya tapi penjualannya tidak dipikirkan. Sukoharjo sudah berkomunikasi dengan Pasar Induk Nasional terkait penjualan produk ini,” tambahnya. (*)

Sumber : Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan